MERDEKA BELAJAR
“MERDEKA BELAJAR”
OLEH : BETZEKNI,S.Pd
UPT SDN 8 PULAU PUNJUNG
Berubahnya tingkat pemahaman kognitif seorang siswa dalam menjalani proses pembelajaran merupakan tujuan utama seorang guru. Jika tingkat pemahaman kognitifnya tinggi maka akan menjadi suatu kebanggaan dari seorang guru. Dalam arti kata, kerja keras guru dalam mengajarkan materi berhasil dengan adanya hasil kognitif yang sudah didapatkan oleh siswa. Tidak bisa dipungkiri, dengan keberhasilan tersebut guru akan semakin puas dengan anak didiknya. Tapi apakah dengan baiknya kognitif seorang anak membuktikan keberhasilan guru sebagai seorang pendidik? Memiliki siswa yang patuh dan selalu menuruti setiap apa yang kita perintahkan juga menjadi kebanggan bagi kita sebagai guru. Bangga ketika memiliki siswa yang patuh, yang mau disuruh ini itu di dalam kelas tanpa tau bahwa mereka suka atau tidak. Mungkin inilah pemahaman dan hal kita percayai tentang murid yang baik menurut versi kita. Tapi apakah hal yang kita percayai mengenai tentang siswa yang baik dalam pembelajaran adalah hal yang benar?
Jauh sebelum mengenal sosok Ki Hajar Dewantara, kita selalu berpikir bahwa kesuksesan seorang guru dapat dilihat dari seberapa banyak siswa yang “dicetak” menjadi orang pintar. Mungkin kita terkadang mengabaikan hal penting yang menjadi fungsi pendidikan itu sendiri. Akan tetapi, hal yang kita banggakan selama ini sangat jauh dari apa yang menjadi pemikiran Ki Hajar Dewantara terhadap arti Pendidikan seutuhnya. Setelah mempelajari filosofi Ki Hajar Dewantara, banyak hal yang membuat cakrawala kita bertambah tentang arti pendidikan sebenarnya. Ki Hajar Dewantara memberikan pemikirannya bahwa Pendidikan merupakan tempat seorang siswa mengekplorasikan dirinya sesuai dengan potensi yang dimilikinya. Guru mempunyai peran sangat besar dalam mengembangkan apa yang dimiliki oleh siswa. Selain itu beliau juga menjelaskan bahwa budi pekerti juga menjadi tujuan utama dalam Pendidikan, bukan hanya kognitif saja. Budi pekerti luhur akan melahirkan generasi yang berkarakter dan santun bersahaja. Pendidikan budi pekerti ini harus mencakup Pendidikan dalam keluarga, Pendidikan di sekolah, dan Pendidikan dalam masyarakat. Dengan dukungan ketiga lingkungan tersebut, maka akan terlahirlah generasi yang berakhlak mulia dan tentunya akan menjadi pribadi yang baik dilingkungannya.
Selain itu, Ki Hajar Dewantara juga menjelaskan bahwa Pendidikan harus disesuaikan dengan
kodrat alam dan kodrat zaman. Sebagai seorang pendidik, kita tidak
bisa memaksakan suatu hal yang menjadi kebiasan
kita di zaman dahulu
disaat kita juga menjadi seorang siswa. Mendidik mereka sesuai dengan zamannya
harus kita lakoni dimana kita berada di zaman serba digital dan teknologi yang super canggih.
Akan tetapi Ki Hajar Dewantara
tetap mengingatkan kita untuk
tetap menjaga dan melesatrikan budaya lokal.
Pendidikan “teacher centre” yang sering dilakoni
seorang guru terhapuskan dengan adanya “stuent centre”
yang dicetuskan oleh Ki Hajar Dewantara. Beliau mengajarkan bahwa Pendidikan
sesungguhnya adalah pembelajaran yang berpusat
kepada siswa. Seorang
guru harus menghilangkan keegoannya sebagai
“orang dewasa yang semuanya tau” di dalam
kelas. Guru harus
bisa menjadi orang yang menyenangkan bagi siswa,
menjadi sahabat sekaligus motivator yang baik untuk anak didik mereka.
Dengan demikian siswa akan merasa
nyaman berada di dekat
gurunya karena mendapatkan layanan terbaik di dalam kelas
maupun di luar kelas.
Pendidikan yang diajarkan Ki
Hajar Dewantara adalah Pendidikan yang dilandasi oleh kasih sayang, “bebas yang
terikat” agar terjadi merdeka belajar di dalam
kelas. Merdeka belajar
merupakan hak semua
siswa, merdeka secara
lahir dan batin. Karena hakikatnya Pendidikan sejatinya harus membuat
seseorang merdeka dalam berbuat. Tentunya berbuat sesuatu dengan kegiatan yang
positif dan bermanfaat.
Semboyan Ki Hajar Dewantara yang
berbunyi ing ngarso sung tulodo, ing madia mangun karso dan tut wuri handayani
hendaknya menjadikan guru lebih mengetahui perannya sebagai seorang pendidik.
Sebagai orang yang memberi contoh teladan yang baik kepada anak didiknya,
sebagai pemberi motivasi dan semangat dan sebagai pendorong jika peserta
didiknya mengalami patah semangat dalam belajar.
Setelah mempelajari pemikiran Ki
Hajar Dewantara tentang Pendidikan tersebut hendaknya kita merubah prilaku
“rutin” yang kita lakukan kepada siswa hendaknya mulai dirubah. Menerapkan
hal-hal positif di dalam kelas, lebih menghargai pendapat siswa, lebih memahami
siswa berdasarkan kodratnya dan memahami bahwa setiap siswa itu adalah unik.
Unik dengan segala keberagamannya.
Hal-hal yang perlu kita terapkan
di dalam kelas diantaranya menjadikan dan memposisikan diri sebagai orang
dewasa yang menyenangkan bagi siswa
di dalam kelas maupun di luar kelas. Menjadikan diri sebagai guru yang menjadi
teladan bagi siswa dari berbagai
hal. Baik dalam bersikap, bertutur
kata, dan cara berpakaian selayaknya seorang guru.
Menularkan hal-hal positif kepada siswa akan menjadikan kita menjadi seorang
guru yang dirindukan kehadirannya oleh siswa.
Komentar
Posting Komentar